Posts

MENJALANI KENYATAAN PAHIT BERSAMA KRISTUS

Image
Jika Tuhan ada, mengapa ia mengijinkan terjadinya rupa-rupa kekejian, pembunuhan, dan ketidak adilan? Banyak orang tergoda untuk berpikir bahwa Tuhan tidak ada, karena di dunia ini terlalu banyak kekerasan dan penderitaan. Namun melalui bacaan Alkitab hari ini, kita mendapati bahwa kisah kehadiran Tuhan tidak terjadi dalam dunia dongeng, dimana segala sesuatu berjalan dengan makmur, aman, dan penuh kebahagiaan. Allah dalam Yesus hadir di tengah realita dunia, dimana terdapat kesenjangan ekonomi, kemiskinan, dan penindasan, bahkan dalam konteks kekejaman politik, dimana rakyat dan bayi-bayi yang tak bersalah dibantai. Yesus pun hadir dalam realitas dimana Ia dan keluarganya harus mengungsi untuk bertahan hidup.   Di Minggu pertama sesudah natal ini, kita akan dibawa untuk membaca realitas pahit dengan sudut pandang ilahi. Sebab kenyataan hidup seringkali seperti sebuah permadani, yang ketika dilihat dari bawah nampak silang sengkarut dan penuh keruwetan. Keindahan sebuah permadani...

ALLAH MENUBUH DALAM KEPRIHATINAN

Image
Kita berada di dunia yang sedang prihatin. Kesedihan, rasa was-was, bimbang tengah menjangkiti banyak kalangan, tak peduli tua-muda, kaya-miskin, semuanya tengah dicekam gejolak ketidakpastian dan berbagai kesulitan hidup. Belum lagi bencana alam dan krisis lingkungan kian parah menerpa Sumatera dan wilayah lain di Indonesia. Dalam situasi yang demikian, banyak orang merasa terhimpit dan tertindas oleh keadaan, sehingga merasa tak berdaya meski segala upaya telah dikerahkan.   Di tengah kepungan keprihatinan yang melanda, kabar baik perlu diberitakan melalui momen malam Natal. Setelah melewati masa penantian panjang akan pertolongan Tuhan, kita diajak untuk merayakan keselamatan, bukan karena segala persoalan yang dihadapi akan segera lewat, namun karena Allah yang berkuasa dan penuh kasih berkenan membersamai kita dalam melewati keprihatinan yang terjadi. Iman yang demikian memungkinkan seseorang untuk punya sandaran dan pegangan, sehingga tidak lari dan frustasi dalam krisis. K...

Artificial Intelligence sebagai “Gambar Manusia,” sebuah Perspektif Teologis

Image
  Oleh: Pdt. Andri Purnawan, MTS.*   PENDAHULUAN    Kecerdasan buatan - Artificial Intelligence (AI)- telah memungkinkan kita melakukan berbagai hal dengan lebih cepat dan mudah. AI mampu memainkan peran sebagai asisten virtual (contoh ChatGPT), algoritma media sosial yang mengetahui minat penggunanya, sebagai mesin pencari yang mampu memberi saran bagi penggunanya, aplikasi streaming musik dan film, mobile banking, aplikasi transportasi online, aplikasi belanja online, dan masih banyak hal lainnya.   Untuk masyarakat urban, tiada hari bisa dilewati tanpa topangan teknologi. Mulai dari peralatan rumah tangga, alat komunikasi, perangkat hiburan, media sosial, alat transportasi, rambu lalu lintas, mesin-mesin pabrik, institusi pendidikan, transaksi keuangan dan hampir semua sektor kehidupan telah melibatkan kecerdasan buatan. Dengan kata lain, teknologi kecerdasan buatan telah menjadi keniscayaan bagi manusia. Artinya tanpanya, kehidupan akan mengalami r...

Memurnikan Hati, Menyambut Pengharapan

Image
  Yohanes 1:6-8, 19-28     Oleh: Pdt. Andri Purnawan    Dalam kisah pra natal, kehadiran Yohanes pembaptis menjadi berita sentral. Tidak semua Injil membicarakan silsilah Yesus Kristus, tak semua pula menceritakan tentang orang Majus, hanya Lukas yang menceritakan tentang para gembala, namun Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes bercerita tentang peran penting Yohanes sebagai pembuka jalan kelahiran dan kehadiran Tuhan Yesus.    Matius 11:11 mengungkap bahwa Yesus pun mengakui, bahwa “Di antara mereka yang dilahirkan oleh Wanita, tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis.” Markus 1:1-4 menjadikan Yohanes sebagai sosok pembuka injilnya, dengan kalimat yang sangat eksplisit, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah,…. Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu,… demikianlah Yohanes Pembaptis tampil.” Lukas 1:5-25 menceritakan dengan detail bagaimana Yohanes Pembaptis dikarunia...

Kita bisa jadi Pahlawan

Image
Yohanes 15:13 Oleh: Pdt. Andri Purnawan    Selamat hari Pahlawan! Merdeka atau mati! Demikian sang pemimpin upacara memekikkannya dan disambut dengan beberapa pleton barisan dengan semangat dengan penuh gelora. Sementara beberapa orang lainnya menanggapi dengan wajah datar, dan sebagian yang lain nampak bertanya-tanya: apa makna dan relevansi pekik merdeka di zaman ini? Itulah yang saya lihat ketika berada di sebuah upacara peringatan hari Pahlawan.    Realitas itu menegaskan bahwa sesungguhnya “pahlawan adalah sebuah konsep.” Setiap orang punya definisi dan imajinasi yang berbeda tentang pahlawan.   Ada yang membayangkan pahlawan sebagai para pejuang yang gugur karena memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ada yang berpandangan bahwa pahlawan sebagai mereka yang berkorban untuk kebaikan orang lain.    Sementara, para remaja putri tahun 90’an membayangkan pahlawan sebagai figur fiktif, yakni seorang pangeran tampan yang datang menjemputnya dengan kereta...
Image
 MENGAKUI KUASA ALLAH   Oleh: Pdt. Andri Purnawan    “Dengan kuasa manakah kamu melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu?”     Pernahkah Anda menjumpai seorang yang mudah marah, terutama bila merasa kewenangannya dilangkahi? Bentuk amarahnya bisa berwujud konfrontasi, menyerang pihak yang dianggap mengancam; namun ada juga dengan mengungkap kekecewaan, dan sejurus kemudian menarik diri dan membangun benteng, serta mengisolasi diri.   Biasanya, orang yang mudah tersinggung punya problem terkait dengan kuasa ( power issue ) dalam kehidupan domestiknya. Di rumah, atau di tempat kerja, mereka terlalu sering disakiti, tak dihargai, dihambat dengan banyak aturan, dan ditekan oleh otoritas dari berbagai jurusan: oleh agama, pasangan, budaya, tuntutan menjaga nama baik dan prestasi, dan segala sesuatu yang menganggap kelemahan sebagai aib yang perlu ditutupi. Bahkan ketika berada di wilayah otoritasnya pun, mereka merasa tak...

Membangun Mezbah Keluarga dengan Kasih Kristus

Image
  Oleh: Agustina Purnawan, S.Si.Teol.   Dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama, mezbah merupakan sebuah tempat persembahan korban. Di sanalah persembahan dari umat kepada Allah dinyatakan, baik dalam rumah hewan-hewan yang di sembelih, maupun dalam rupa gandum, anggur, dan kemenyan yang dibakar di dalam terbuka. Sifat mezbah adalah sakral, diliputi suasana kekudusan, tempat dimana Allah dan umat-Nya saling mendekat, dan bahkan menjadi sarana umat untuk mencari perlindungan (1 Raj. 2:28). Dalam sejarah Israel, setelah bait suci Yerusalem didirikan sebagai pusat penyembahan nasional, secara resmi pendirian mezbah-mezbah lokal tidak lagi diizinkan.   Di Perjanjan Baru, Kristus, yang telah menjadi Imam Besar sekaligus Sang Korban Pendamaian yang Abadi menjadi pusat mezbah kehidupan orang percaya.   Picture of  https://pngtree.com/freepng Pertanyaannya, apakah mezbah keluarga masih diperlukan? Jawabnya tergantung apa motifnya. Jika pusat-pusat penyembahan dan korban...