Posts

Populism Contestation in Indonesia Post-Islamist Mass Mobilization

      By: Andri Purnawan   Introduction The rise of socio-religious mass mobilization is part of the global wave of populism, the notion of political reality in the form of a diametric opposition between 'the people' and 'the elite,' and the populist agenda contains the reversal of institutional networks seen as the interests of the elite conspiracy to straddle the people. Populism sweeps the world in the form of religious populism, ethnic/racial populism, class populism, national populism, and populism of civilization. [1] In Indonesia, social, political phenomena that occur also shows the dynamics of populism that involve religious groups, nationalists, and mixed with elite agenda. The purpose of this paper is to answer the question, why did Islamic populism succeed in overthrowing Ahok, but failed to overthrow Jokowi, or prevent him from being elected for the second time as President of the Republic of Indonesia? I will argue that the combination of the fragmentat...

KEBHINNEKAAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

Image
  “Kebhinnekaan adalah buah kreativitas tanpa batas dari Sang Pencipta. Tugas kita adalah mengagumi, menyesuaikan diri dan mengelolanya, bukan meniadakannya.”   - Pdt. Andri Purnawan -       Sejatinya bicara tentang kebhinnekaan  adalah tentang bagaimana melihat dunia sebagai rumah bersama (oikumene).  Itu  tak bisa dibatasi hanya di ranah penyatuan gereja maupun kebutuhan hidup berdampingan antar  umat manusia saja. Gerakan oikumene dalam kebhinnekaan harus beranjak dari gerakan yang gereja-sentris maupun antroposentris, menuju pada perjuangan keutuhan ciptaan.    TEOLOGI “RUANG KEHIDUPAN” ( SPACE OF LIFE ) SEBAGAI TITIK BERANGKAT   Manusia tidak mungkin dapat hidup tanpa ruang kehidupan. Ruang kehidupan yang dimaksud adalah alam semesta, bumi dan segala isinya. Karya Tuhan dalam sejarah adalah karya dalam ruang kehidupan. Tuhan memulai karya-Nya dengan mencipta ruang kehidupan bagi manusia (Kej.1-2), membe...

TANGGUH DAN BERTUMBUH

Image
 Oleh: Andri Purnawan    Meski kurva penularan COVID-19 gelombang kedua mulai menurun, dampak sampingannya belum mereda. Jumlah korban fisik (terinfeksi, meninggal, sembuh) secara global maupun nasional bisa dihitung. Namun korban mental dan spiritual tidak terdeteksi. Ada orang yang bertahan, dan ada yang tumbang akibat krisis multi dimensional yang timbul. Salah satu aspek penting yang membedakan kedua pihak itu adalah ketangguhan ( resilience ).  Image: NaseriN | Getty Images Karakter tangguh ( resilience ) bukan hanya bawaan lahir, melainkan dibangun melalui waktu, dan pengalaman berhadapan dengan krisis. Itulah mengapa orang merespon krisis (dampak pandemi) secara berbeda. Tangguh bukan hanya kuat, namun mampu menyesuaikan diri, luwes ketika berhadapan dengan tekanan internal dan eksternal. Empat puluh tahun lalu, Norman Garmezy- Profesor Emeritus University of Minnesota – Mineapolis melakukan studi mengapa banyak anak yang diasuh orang tua  schizophrenia ...

Menjemput Senja

Image
Oleh:  Dewi Kirana Charistea*   gambar diunduh dari phinemo.com Agustus adalah bulan bersejarah. Tujuh puluh enam tahun lalu, di bulan ke delapan, negeri ini terbebas dari belenggu. Bagiku Agustus juga tak terlupakan. Sejenak aku melamunkan memori kocak penuh makna. Memori yang merangkai kisah perjuangan antara aku, Rama, dan Senja.    Pagi itu, Sang Saka Merah Putih menari-nari ditiup angin, menjulang ke langit biru dan berkibar di sebuah tiang putih. Lapangan luas itu disesaki masyarakat dengan berbagai profesi dan usia. Aku menengok ke kanan kemudian ke kiriku, “Ren, jaga tempatku ya,” ujar kawanku, Rama yang berbaris tepat di sebelahku. Sejurus kemudian ia sudah menghilang bak ditelan bumi, entah dia mau ke warung Bu Siti atau apa aku tak sempat bertanya. Tapi akhirnya aku menyesal tak bertanya, karena sampai sepuluh menit berlalu kawanku itu tak kunjung kembali. Semua tatapan kini tertuju padaku. Lelah juga aku merenggangkan kaki untuk menjaga tempatnya. “Renjan...