Posts

Cintaku Pada Rumahmu

Image
Bacaan: Yohanes 2:13-22 Oleh: Pdt. Andri Purnawan      Cinta yang sejati mentransformasi dan menyempurnakan, tak hanya membuai dan membuat nyaman. Cinta kepada Rumah Allah tak berarti tunduk takzim dalam jeratan sistem keagamaan yang dibangun oleh manusia, melainkan menggelorakan kesadaran pada yang hakiki, yakni Allah memberi anugerah dan merangkul umat manusia. Perintah Yesus agar rumah Bapa tidak dijadikan tempat berjualan, tidak berhubungan dengan larangan menjual buku di kolportage, atau makanan di kedai gereja. Penjualan buku dan makanan di gereja diselenggarakan dalam rangka mempermudah jemaat, bukan mempersulit. Sementara “pasar resmi” bait Allah merepresentasikan kenyataan eksploitatif lembaga agama terhadap pemeluknya.    Bait Allah merupakan simbol kehadiran Allah di tengah umat manusia. Lalu mengapa Yesus yang adalah “Sang Bait Allah Sejati” harus murka terhadap  religious market place  di Yerusalem? Jawabnya adalah karena di bait suci terd...

Hadirnya Perempuan: Sebuah Paralelisme antara Diskriminasi Rasial dan Gender

Image
Kematian George Floyd pada 25 Mei 2020 memicu ledakan amarah sebagian besar public Amerika. Ada meluapkan dengan amuk, penjarahan, pembakaran di berbagai kota. Juga dalam beberapa minggu terakhir puluhan, bahkan ribu ratusan ribu orang memprotes rasialisme dan menuntut keadilan ras ditegakkan. Di Amerika sendiri perlawanan terhadap rasisme, terutama oleh masyarakat kulit putih terhadap kulit berwarna telah terjadi selama berabad-abad. Bahkan salah satu pahlawan Amerika, Dr. Martin Luther King Jr., yang adalah pemimpin  Civil Rights Movement (Pergerakan Hak-hak Sipil), terbunuh karena kebencial rasial. Rasisme dalam kadar tertentu bakal membuat orang tega merayakan kematian sesamanya, meledakkan tempat-tempat ibadah, dan bahkan berpuncak pada hasrat menghilangkan golongan tertentu, seperti juga  upaya genosida terhadap orang Yahudi di Jerman pada masa Hittler.  Rasisme berawal dari perasaan superior terhadap diri dan golongannya, dan dalam waktu yang sama melihat...

UNMUTE THE VOICELESS: Justice and Gender Equity in John 8:2-11

Image
  Introduction The story about a woman caught committing adultery in John 8:2-11 can be a point of reflection toward sexual cases involving women. Nonetheless, interpretation of this story is often focused on Jesus, who brilliantly releases himself from the trap of dilemmatic choice between law and mercy. [1]  Consequently, Jesus' attitude to the woman is limited to spiritual forgiveness.  In this paper, I argue that  John 8:2-11 focuses on  justice rather than polarization between law and mercy. Through the proper judgment and willingness to unmute the woman’s voicelessness, give chance the woman to speak and set her free,  Jesus presents subversive action to the biased law enforcement and socio-cultural construct that suppresses women's rights to defend themselves in public. Furthermore, by reading John 8:2-11 from the gendered justice perspective, the text can be a reflection point in facing women's contemporary sexual cases....

Validasi Respon di Masa Pandemik dalam Perspektif Eskhatologis Matius 24:4-39 (sebuah refleksi)

Image
Pernahkah Anda mendengar istilah  social validation  (pengesahan social)? Sebuah pemikiran, sikap dan perilaku dianggap sah jika ada dukungan orang banyak. Misalnya, mau membeli barang apa pun, atau menggunakan jasa seperti hotel, restaurant, memilih film, maupun jasa online, kita biasanya terlebih dahulu memperhatikan review (ulasan) orang lain. Ada ulasan yang berkualitas berupa testimoni edukatif- berisi penjabaran kenyataan; namun juga kebanyakan hanya bersifat informasi sepenggal, subyektif, hanya berupa angka, tanda bintang, atau bahkan hanya tanda like (jempol ke atas) or dislike (jempol ke bawah). Makin banyak jempol (ke atas)nya berarti makin valid/ atau makin sah untuk diikuti.  Hidup berpatokan pada  social validation  ada manfaatnya, namun sekaligus ada kerugiannya. Bermanfaat karena kita tidak akan jatuh ke lubang yang sama, yang telah dialami orang lain;    dan memilih sesuatu yang setidaknya telah dirasakan dampak positifnya oleh ...

PENTINGNYA TITIK PIJAK

Image
Tak seperti yang diyakini oleh para Teolog Pembebasan, Alkitab tak selalu menceritakan tentang Allah sebagai Sang Pembebas. Tak jarang Ia digambarkan sebagai Allah yang menindas, misalnya menindas bangsa-bangsa Kanaan demi memuluskan upaya invasi Israel atas Kanaan.  “If God of Israel is also the God of all nations, why does God fulfill justice by annihilating other nations?” (Chan-Hie Kim,  Reading Bible as Asian Americans; The New Interpreter Bible , p.165).   Dari apa yang tergambar di atas, kita diingatkan betapa vital peran titik pijak. Dimana kita berpijak, darisanalah perspektif kita terbentuk. Jika direnungkan, hampir semua ketegangan dalam kehidupan tak melulu disebabkan oleh pertentangan antara baik dan jahat, benar dan salah, melainkan karena perbedaan perspektif/ sudut pandang. Mereka yang sama-sama berhati mulia bisa bertengkar oleh sebab beda kacamata dalam menakar kenyataan.   Taruhlah contoh, isu Papua yang akhir-akhir ini ...

DUDUK BERSAMA YANG BERBEDA

Image
Di sebuah Minggu pagi, dalam perjalanan dari Harvard Avenue ke Old South Church Boston, saya melihat seorang perempuan Afro America usia setengah baya membawa beberapa kotak container bekas   berukuran 60 cm3, yang dipungutnya dari pinggir jalan. Di USA orang punya kebiasaan meletakkan barang - baik elektronik maupun furniture -  dengan kualitas baik yang sudah tidak dibutuhkan di depan rumah. Siapa saja yang membutuhkan boleh membawanya. Tentu naik kereta dengan membawa beberapa kotak besar terkesan ribet. Atas alasan keribetan itulah saya dan orang lain memilih untuk tak duduk di sebelah perempuan kulit hitam itu. Beberapa saat kemudian, di perhentian kereta depan BU East, naiklah seorang  perempuan setengah baya kulit putih dan terlihat mencari tempat duduk. Saya berdiri menawarkan tempat duduk kepadanya, tetapi ia menolak dan memilih untuk duduk di sebelah perempuan Afro Amerika itu sambil berkata,  Do you mind if I sit next to you?...

MANUNGGAL DENGAN ALLAH, HARMONIS DENGAN SESAMA

Image
" Union with God then, is not complete until there is nothing left to be  united .”  - Bernadette Roberts - Seorang Sufi Andalusia-Spanyol, bernama Ibn’ al- Arabi dikenal dengan  doktrin  wahdat al-wujud  (Unity being), sesuatu yang ada di dunia ini bersumber dari satu  Realitas Sejati,  yakni Allah. Ketika semesta diciptakan tidak ada satupun  eksistensi  selain dari pada Allah. Pertanyaannya darimanakah Allah mendapatkan “bahan” untuk mencipta jika tak ada sesuatupun selain Dia? Menurut Ibn’ al-Arabi dalam bukunya  Fusus al-hikam  ( The Bezels of Wisdom ), “bahan” penciptaan adalah Allah sendiri. Dengan daya kreatifitas, dan cinta Allah mencipta manusia dan semesta. Karena manusia berasal dari Allah, maka yang paling utama dalam hidup ini adalah  menghadirkan karakter ilahi yang ditanam Allah pada kita. Mereka yang berhasil menyatu dengan Allah oleh oleh Ibn’ Arabi disebut sebagai  Insan al-Kamil , ...