Posts

Validasi Respon di Masa Pandemik dalam Perspektif Eskhatologis Matius 24:4-39 (sebuah refleksi)

Image
Pernahkah Anda mendengar istilah  social validation  (pengesahan social)? Sebuah pemikiran, sikap dan perilaku dianggap sah jika ada dukungan orang banyak. Misalnya, mau membeli barang apa pun, atau menggunakan jasa seperti hotel, restaurant, memilih film, maupun jasa online, kita biasanya terlebih dahulu memperhatikan review (ulasan) orang lain. Ada ulasan yang berkualitas berupa testimoni edukatif- berisi penjabaran kenyataan; namun juga kebanyakan hanya bersifat informasi sepenggal, subyektif, hanya berupa angka, tanda bintang, atau bahkan hanya tanda like (jempol ke atas) or dislike (jempol ke bawah). Makin banyak jempol (ke atas)nya berarti makin valid/ atau makin sah untuk diikuti.  Hidup berpatokan pada  social validation  ada manfaatnya, namun sekaligus ada kerugiannya. Bermanfaat karena kita tidak akan jatuh ke lubang yang sama, yang telah dialami orang lain;    dan memilih sesuatu yang setidaknya telah dirasakan dampak positifnya oleh ...

PENTINGNYA TITIK PIJAK

Image
Tak seperti yang diyakini oleh para Teolog Pembebasan, Alkitab tak selalu menceritakan tentang Allah sebagai Sang Pembebas. Tak jarang Ia digambarkan sebagai Allah yang menindas, misalnya menindas bangsa-bangsa Kanaan demi memuluskan upaya invasi Israel atas Kanaan.  “If God of Israel is also the God of all nations, why does God fulfill justice by annihilating other nations?” (Chan-Hie Kim,  Reading Bible as Asian Americans; The New Interpreter Bible , p.165).   Dari apa yang tergambar di atas, kita diingatkan betapa vital peran titik pijak. Dimana kita berpijak, darisanalah perspektif kita terbentuk. Jika direnungkan, hampir semua ketegangan dalam kehidupan tak melulu disebabkan oleh pertentangan antara baik dan jahat, benar dan salah, melainkan karena perbedaan perspektif/ sudut pandang. Mereka yang sama-sama berhati mulia bisa bertengkar oleh sebab beda kacamata dalam menakar kenyataan.   Taruhlah contoh, isu Papua yang akhir-akhir ini ...

DUDUK BERSAMA YANG BERBEDA

Image
Di sebuah Minggu pagi, dalam perjalanan dari Harvard Avenue ke Old South Church Boston, saya melihat seorang perempuan Afro America usia setengah baya membawa beberapa kotak container bekas   berukuran 60 cm3, yang dipungutnya dari pinggir jalan. Di USA orang punya kebiasaan meletakkan barang - baik elektronik maupun furniture -  dengan kualitas baik yang sudah tidak dibutuhkan di depan rumah. Siapa saja yang membutuhkan boleh membawanya. Tentu naik kereta dengan membawa beberapa kotak besar terkesan ribet. Atas alasan keribetan itulah saya dan orang lain memilih untuk tak duduk di sebelah perempuan kulit hitam itu. Beberapa saat kemudian, di perhentian kereta depan BU East, naiklah seorang  perempuan setengah baya kulit putih dan terlihat mencari tempat duduk. Saya berdiri menawarkan tempat duduk kepadanya, tetapi ia menolak dan memilih untuk duduk di sebelah perempuan Afro Amerika itu sambil berkata,  Do you mind if I sit next to you?...

MANUNGGAL DENGAN ALLAH, HARMONIS DENGAN SESAMA

Image
" Union with God then, is not complete until there is nothing left to be  united .”  - Bernadette Roberts - Seorang Sufi Andalusia-Spanyol, bernama Ibn’ al- Arabi dikenal dengan  doktrin  wahdat al-wujud  (Unity being), sesuatu yang ada di dunia ini bersumber dari satu  Realitas Sejati,  yakni Allah. Ketika semesta diciptakan tidak ada satupun  eksistensi  selain dari pada Allah. Pertanyaannya darimanakah Allah mendapatkan “bahan” untuk mencipta jika tak ada sesuatupun selain Dia? Menurut Ibn’ al-Arabi dalam bukunya  Fusus al-hikam  ( The Bezels of Wisdom ), “bahan” penciptaan adalah Allah sendiri. Dengan daya kreatifitas, dan cinta Allah mencipta manusia dan semesta. Karena manusia berasal dari Allah, maka yang paling utama dalam hidup ini adalah  menghadirkan karakter ilahi yang ditanam Allah pada kita. Mereka yang berhasil menyatu dengan Allah oleh oleh Ibn’ Arabi disebut sebagai  Insan al-Kamil , ...

Bergerak : Melebur Diri dalam (Misi) Allah

Image
Gerak adalah salah satu ciri kehidupan, sekaligus menjadi pertanda pertumbuhan dan perkembangan. Apa yang ‘stabil’, tidak lagi bertumbuh dan berkembang serta mengalami stagnansi layak diduga mati.  Dalam kehidupan, pergerakan- entah yang yang bersifat evolutif maupun revolusioner dibutuhkan bagi kemajuan peradaban. Progresifitas  manusia berpilin erat dengan kemajuan. Sejarah telah menggores kenyataan, bahwa makin jauh manusia pergi-bergerak, makin terbuka pikirannya dan makin ‘kaya’ peradabannya. Contoh paling nyata ada pada perubahan peradaban manusia sesudah alat transportasi ditemukan. Ketika bergerak dengan kaki manusia menemukan buruan, yang bergerak dengan kuda menemukan petualangan, yang bergerak dengan kapal di lautan menemukan benua baru, yang bergerak dengan pesawat terbang merelatifkan batas jarak dan waktu. Masih ada satu lagi, yang bergerak dengan teknologi meringkaskan luasnya semesta hanya dalam satu genggaman. Atau cobalah ingat kawan masa kecil ki...

MENGAMBIL BAGIAN DALAM KARYA PEMULIHAN CIPTAAN

Image
6 November telah ditetapkan PBB sebagai  International Day for Preventing The Exploitation of the Environment in War and Armed Conflict  (Hari Internasinal bagi Pencegahan Eksploitasi Lingkungan hidup dalam/dari Perang dan Konflik Bersenjata). Di satu sisi perang dan konflik bersenjata selalu menyisakan kesedihan, memakan korban, menghancurkan peradaban dan menimbulkan trauma bagi manusia. Selain itu, lingkungan adalah “ silent victim ”, yang tak berdaya ketika perang berkecamuk. Air terpolusi, tanah ikut rusak dan teracuni, hutan dibalak, hewan-hewan dibunuh untuk kepentingan perang, udara tercemari dengan asap kehancuran. Perang selalu menimbulkan kerusakan lingkungan.  Di sisi lain berlaku situasi kebalikan. Eksploitasi dan perusakan lingkungan, pembalakan hutan, penjajahan tanah adat oleh koorporasi yang sering berbuntut konflik agraria, penguasaan monopolis atas air dan mineral, pencemaran udara dan pembuangan limbah yang  ngawur  sering menimbu...

MENGUJI ‘CINTA & BENCI ILUSIF’

Image
Di era ini, media sangat berperan membentuk persepsi terhadap segala sesuatu. Sayangnya berbagai narasi di sekitar kita tidak disusun dalam ruang hampa. Motif telah menetap, rupa-rupa argumentasi disusun kemudian. Tak jarang lalu lintas narasi itu membuat “orang-orang baik” jadi kabur dan terjerembab dalam jebakan cinta dan benci yang bersifat ilusif.   Sebelumnya purba sangka  kita terhadap sesuatu butuh afirmasi pengalaman nyata, kini asumsi media yang menggempur secara bertubi-tubi membuat orang tak butuh pengalaman nyata untuk menguji prasangkanya. Sebagai contoh, persepsi yang dibangun oleh kelompok #2019gantipresiden, mereka menggelontorkan berbagai narasi yang membuat orang merasa Indonesia darurat ganti presiden tanpa tahu siapa calon alternatifnya. Propaganda ini seolah mengulang peristiwa “asal bukan Megawati” pasca kemenangan PDIP di Pemilu 1999 lalu.  Terlepas dari polemik siapa yang bermain dan apa motifnya, saya melihat kemiripan dalam dua din...