Posts

STOP COMPARING, START APPRECIATING

Image
Tak dapat disangkal bahwa kita hidup di dunia yang penuh aktivitas pembandingan. Sebelum membeli sesuatu kita pasti membandingkannya. Mulai dari menu makanan, pilihan baju dan aksesoris, smartphone, mobil, rumah, dan semua barang lainnya.  Kita pun membanding-bandingkan kualitas sekolah/ universitas, tempat-tempat rekreasi, pasar tempat kita belanja, bahkan gereja/ tempat ibadah ataupun pasangan hidup yang terbaik buat kita. Jika direnungkan lebih jauh, aktivitas pembandingan itu selalu berdasar pada dua hal, yakni harga ( price)  dan nilai/ value (kualitas maupun kuantitas).  Dengan membandingkan kita mengetahui mana yang lebih baik di antara dua atau banyak alternatif. Dengan membandingkan pada akhirnya kita akan dapat menentukan pilihan mana yang akan kita rangkul menjadi bagian dari kehidupan kita. Bisa dibayangkan betapa membosankannya hidup ini jika semua hal sama dan seragam.  Dalam hal ini perbandingan membuat hidup menjadi penuh warna d...

TABUR TUAI YANG TERDISTORSI

Image
Teologi publik yang berlaku dalam konteks kita menyatakan bahwa kemiskinan adalah hukuman dari Tuhan. Pemahaman ini dikenal sebagai  retribution-theology . Singkatnya teologi ini menyatakan bahwa apa yang orang tabur, itulah yang mereka tuai. Pemahaman yang demikian menyeruak dari konteks pertanian awal Israel kuno. Namun sebagaimana yang diungkap oleh Gunther Wittenberg (Wittenberg, 1991) kearifan komunitas ini telah terdistorsi ketika konteksnya berubah dengan bangkitnya monarki dan negara yang tersentralisasi.  Sebelum monarki, validitas tabur tuai ditantang oleh alam. Masyarakat harus menghadapi beberapa faktor eksternal yang tidak dapat diprediksi, seperti kekeringan, hama belalang, dan invasi dari bangsa tetangga (misal: Filistin). Setelah monarki validitas tabur tuai menghadapi tantangan kedua, yakni orang belum tentu menikmati apa yang mereka tanam, dan juga sebaliknya manusia bisa saja mendapatkan apa yang mereka tidak tanam.  Memang  monarki ...

BILA DITOLAK DAN DILUKAI

Image
photo : smartparenting.com Bacaan : Markus 3:20-35 Pernahkah anda berbuat baik dan tulus, namun justru dicurigai, disalahkan, dianggap jahat dan sesat? Bagaimana perasaan Anda ketika diperlakukan demikian? Salah satu hal yang menyakitkan di dunia ini adalah ketika kita mengalami penolakan ketika melakukan yang baik. Penolakan yang paling pahit adalah ketika yang terbaik dari kita justru dianggap kesalahan – bahkan kejahatan. Dalam kondisi demikian banyak orang tidak dapat menerima keadaan. Bagaimana tidak?  Wis ditulung malah menthung.  Perlakuan yang demikian membuat orang jadi  jengah   dan tawar hati untuk melanjutkan aksi-aksi luhur. Seorang teman  bahkan pernah berkata,  “Aku kapok berbuat baik! Sebab banyak orang tidak tahu diri, tidak tahu berterimakasih. Jadi mulai sekarang lebih baik aku jadi bad guy! Itu akan membuat orang lebih menghargaiku sebab mereka takut dan segan padaku!”   Bagaimana dengan Anda?  B...

MERAWAT KEBERSAMAAN DI TENGAH KEPELBAGAIAN (GKI)

Image
photo : fiec.org.uk TANTANGAN POLARISASI “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh!” Sejatinya visi persatuan bukan hanya milik Gereja. Telah menjadi fitrah manusia, setiap orang, kaum atau bangsa ingin bersatu padu dan tidak menyukai perpecahan, lebih-lebih lagi sampai membawa permusuhan dan peperangan. Perpecahan itu buruk akibatnya, bahkan besar resiko yang hendak ditanggung hingga beberapa generasi kemudian. Tetapi  walau ingin bersatu, ternyata manusia sulit untuk disatukan. Mengapa? Karena semua pihak punya keyakinan, cara pandang, dan kepentingan yang beragam. Niat baik saja belum cukup untuk membuat manusia bisa bersatu dan melangkah bersama secara harmonis. Mempertemukan keyakinan, cara pandang, apalagi kepentingan membutuhkan proses dan kesediaan ber kenosis   yang luar biasa.  Trust   yang menjadi prasyarat kesatuan bukanlah sebuah keadaan final, sebab faktanya sebuah  trust  sangatlah cair dan dinamis, sangat dipeng...

OLIGARKI dan RADIKALISME - PENUMPANG GELAP DEMOKRASI

Image
Demokrasi Indonesia telah mencapai tahap yang mengkuatirkan. Kekuasaan dari, oleh dan untuk rakyat telah ditunggangi oleh dua entitas penghisap peradaban, yakni oligarki dan radikalisme. Fenomena  “praktik penyimpangan demokrasi politik telah membuka peluang terjadinya artikulasi politik yang ekstrim seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, sektarianisme, terorisme serta ajaran lain yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.  DEMOKRASI OLIGARKI  Demokrasi oligarki merujuk pada suatu tatanan demokrasi dimana konstelasi politik didominasi oleh koalisi elit yang predatoris dan meminggirkan kekuatan masyarakat sipil (Yuki Fukuoka, 2013). Jika dicermati para kapitalis domestic ini telah tumbuh sejak orde baru. Lingkar konglomerat domestic yang dibesarkan oleh Soeharto inilah yang kemudian hari – setelah runtuhnya Soeharto – mengambil alih kekuasaan baik di tingkat nasional maupun local dan membentuk lingkaran oligarkis (Robinson, 2012). Orde baru memang te...